Mengejar Impian

Sunday, July 03, 2005

Kenapa,ya, Orang Jepang susah Nerima Islam?

Kenapa,ya?
Mungkin bagi beberapa orang Jepang, karena mereka cenderung suka mengambil harmoni, tidak berbenturan dengan orang-orang yang berbeda. Karena itu, mereka mengadopsi Natal juga, upacara pemakaman juga, upacara hinamatsuri juga. Tapi, dari sisi `kekerasan`, mereka tak ingin berfrontal ria. Karena itu, banyak yang tak bisa menerima fenomena bom syahid sebagai salah satu wujud jihad. Makanya, jangan lupa tuk selalu menceritakan sisi lain dari jihad ini. Ups, bukan hanya menceritakan, tapi mempraktekkan lewat perbuatan. Jihad, saat latihan beladiri, jihad, saat memasuki ruang lab, jihad, saat berdiri di panggung, jihad, saat apapun. Really? Motto doryoku sinasai,yo!(berusaha yang lebih baik,dong,Put!)

Coba kalau kt lihat,
`..."Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain ALlah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja", kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya,...` (AL-Mumtahanah:4)
or,
`Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. ...`(ayat 1-nya)
`Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim` (ayat 9-nya)

Kalau dibaca tafsir surat ini secara keseluruhannya, seharusnya bisa dipahami ukuran bagaimana membenci siapa dan bagaimana berbuat rahmatan lil`alamin kepada siapa. Tapi, aku belum paham bagaimana konsep membenci ini. Ya ALlah,pahamkan,dong...:D

Itulah, intinya, mungkin salah satunya, mengapa orang Jepang sulit menerima Islam adalah, ada kecenderungan untuk membuat seorang muslim itu menjadi sangat fanatik, menganggap dirinya mulia secara berlebihan, dan membenci orang-orang di luar agamanya. Dan, akhirnya, bisa membawa pada fenomena yang lebih `kerrrash`.

Hm...senseiku bilang, `kalau saya, rasanya, saya harus berterimakasih pada semua hal yang melingkupi saya. Laut indah, wah, terimakasih yang jaga laut. Hutan indah, terimakasih. Matahari hangat, terimakasih. Setiap makan yang bermacam-macam,dari berbagai negara, perasaannya, terimakasih. Sudah baik mereka menjadi objek makan saja, seharusnya saya memanfaatkannya sebaik-baiknya. ` Perasaan terimakasih yang melingkupinya. Tapi, terimakasihnya itu,loh. Ya kepada Tuhan Matahari, Tuhan Laut, TUhan Gunung... Tuhan babi? Mungkin, jadi akhirnya, tak ada lagi ruang untuk membenci sesuatu.

Quote for you, di kalimat akhirnya, `tapi mungkin itu menunjukkan egoisme saya saja,ya. Mengambil, hanya yang saya suka.` (hm..kalau dikaitkan, mau menerima rahmat, tapi, tak mau menyenangkan hati yang memberi rahmat, karena itu terlihat menyakitkan, atau berat dalam hati...)

Ini gimana?

Semoga Allah mengaruniakan kita terus pada keteguhan iman padaNya.

2 Comments:

  • assalamu 'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    apakah benar orang jepang mempertahankan harmoni, tak suka berbenturan? sebenarnya, tidak ada orang yang bisa benar-benar selalu mempertahankan keharmonian. Lihatlah Jepang dalam menghadapi perang irak. Bukankah mereka memilih bersekutu dengan USA? Mereka berharmoni dengan amrik, tapi tidak dengan irak. Lalu, bagaimana dengan kilas balik sejarah? Apakah mereka memang tak suka terlibat dalam benturan-benturan, jadi negara penebar kedamaian? Apa yang sudah mereka lakukan dengan tanah air menjelang kemerdekaan...

    Jadi, kalau menurut saya, intinya, mereka akan mengikut pada sesuatu yang mereka yakini sebagai pihak yang kuat dan menang.

    Kalau saja Islam ini memang sudah diakui sebagai dien yang tangguh, syamil wa kamil, tentulah mereka bagai tercocok hidungnya mengikuti, seperti mereka sekarang mengikuti peradaban barat.

    Tentang membenci. Menurutku, kafir itu ada dua macam : kafir dengan pengetahuan dan kafir tanpa pengetahuan. Orang Jepang, pada umumnya kafir tanpa pengetahuan. Orang quraisy, kafir dengan pengetahuan. Artinya, telah sampai kepada mereka risalah samawi, tapi mereka menolak. Bagaimana gambaran penolakan kaum quraisy padahal mereka sudah tahu dan mengerti, bisa dilihat pada cuplikan peristiwa perjanjian hudaibiyah. Suhail, wakil Quraisy, menolak kalimat perjanjian, "Dengan Nama Allah yang Maha Rahman". Dia katakan, "Demi ALLAH, saya tak kenal siapa itu Rahman. Maka tulislah saja : tuhan kalian." Jadi, dalam teks terjemahan (entah ya kalau dalam sirah aslinya, orang Quraisy sendiri mengenal nama Allah, dan biasa mengucapkannya (?). Belum lagi, pribadi Rasul yang al-amin juga sudah mereka ketahui dengan nyata.
    Contoh lain orang kafir yang pantas diposisikan sebagai pihak yang dibenci dan dimusuhi adalah mereka yang sudah belajar banyak islam, tapi tetap menolak mengakui kebenarannya (cth : http://answering-islam.org.uk/).

    Saat ini, memang sangat susah menyampaikan hakikat islam kepada orang jepang, karena mereka sudah terlanjur lebih percaya pada info-info yang menyudutkan Islam. Ditambah pula para pemeluknya sendiri yang banyak menyebabkan Islam itu dipahami salah. Contoh sederhana? Ini : kalau orang-orang Indonesia perempuan dan berjilbab ramai-ramai naik kereta, apalagi bila kumpul beberapa keluarga beserta anak-anak mereka, ributnya hular bizaza. Padahal, lambang-lambang islam melekat erat di busana mereka. Mungkin gak semua, tapi sering demikian halnya. Tentu saja, orang Jepang yang melihat hal seperti itu jadi membenarkan propaganda musuh. Ternyata benar : primitif.

    Barangkali, patut ditambahkan pula, orang Jepang (atau siapa saja) sulit masuk Islam karena cahaya Islam itu sendiri terhijabi oleh kejahilan ummatnya.

    Wassalamu 'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

    By Anonymous Anonymous, at 9:46 PM  

  • Assalamu'alaykum

    Coba ke darussalaf.or.id

    By Anonymous Anonymous, at 12:18 AM  

Post a Comment

<< Home