Bagaimana Pendidik Ideal Kita?
Satu lagi kuliah menarik, presentasi tentang pendidikan, dipandang dari sisi hak asasi manusia, dan hukum. Well, isinya sangat bebas, tapi selalu dikaitkan dengan KEMPOU (undang2nya Jepang).
Grupku bagian bagaimana sosok pengajar/pendidik ideal itu sebenarnya.
Aku mati-matian berpikir, (ehm...tepatnya, berpikir,bingung di awang-awang), baik tidaknya mengetengahkan sosok Rasulullaah SAW dalam bagianku.
Akhirnya aku mengangkat bagaimana seorang guru yang berkecimpung dalam mengurusi anak-anak ketergantungan obat-obatan, menangani anak-anak itu satu persatu. Karena waktuku singkat, satu elemen, yaitu tidak ribut mengharap ini itu dari didikannya, tapi memberikan kata penyemangat singkat, dan bersikap menunggu, dengan percaya.
Schene itu adalah, seorang anak perempuan yang meneleponnya, dan berkata putus asa akan malangnya dan gagalnya hidupnya, yang telah dikotori oleh narkotik. Kata guru itu, ` Terimakasih, terimasih, anakku. Kau terus bertahan hidup terimakasih,ya. Ucapkan terimakasih juga pada semua obat-obatan, pada semua kerusakan pada lenganmu itu. Mereka lah yang telah membantumu bertahan hidup sampai sekarang ini.Tapi sekarang aku ada di sini. Sekarang, Mizutani yang akan menemanimu hidup,ya.`
Itulah, guru yang mengerti bagaimana masuk ke dalam alam pikir dan perasaan didikannya.
Dan kucuplik episode seorang yang menghadap Rasul, menyatakan ingin masuk Islam, tapi tetap ingin berzina, dan minum khamr. Dan Rasulullah pun berkata, `boleh, kau boleh masuk Islam, asalkan kau selalu jujur, tidak pernah berbohong.`
Rasulullah tahu poin mana yang perlu diikat kencang, dan poin mana yang akan segera menyusul di belakang, tanpa perlu diajari. Begitulah pendidik.
Nah, misiku, agar teman-teman tahu, bahwa Islam yang tampak ketat itu, punya tahapan dalam menuntun orang kembali ke jalan yang lurus.
Nah, menurutmu, tepatkah cara ini?Maksudku, salahkah aku menggunakan 5 menit waktuku untuk ini?
Hari presentasi, aku ciut juga. Ternyata teman2ku mengangkat begitu banyak informasi tentang pendidikan. Tentang praktek pendidikan sex pada anak-anak, kasusnya yang sampai pengadilan, tentang kasus buku paket pelajaran dan masalah sejarah, dan begitu banyak informasi padat lainnya. Dan, satu ideku bagaimana guru itu idealnya, rasanya, sudah hal yang biasa dan lewat begitu saja dalam satu kalimat,sebagai kalimat penambah, untuk tema besar lain.:(
Akhirnya, aku tak jadi presentasi. Grupku yang kebagian tema `bagaimana sosok pendidik mengharapkan didikannya, dan sebaliknya` disunat habbis. Kami kehabisan waktu.Tulisanku mungkin hanya akan disebar dalam mailing list saja.
nah, aku makin bingung, sebenarnya baik tidak,ya, caraku itu? Komentari,ya.
1 Comments:
Assalamu 'alaykum wr wb. Barangkali, guru yang paling baik adalah yang bisa memahami cara berpikir dan merasa satu demi satu anak didiknya. Kalau mau menyinggung keteladanan Rasulullah saw dalam mendidik, maka sepertinya tak cukup bila hanya mengutip satu kisah saja. Tapi memang susah ya... karena keterbatasan waktu... Namun bagaimanapun insya Allah itu cara yang mulia, bukankah sebuah amal itu tergantung niatnya. Make it simple as the dien is simple. Gak usah berpikir terlalu panjang soal taktis dan strategis, karena mungkin di situ justru jebakan setan membuatmu sibuk berpikir saja, habis waktu hingga tak berbuat.
Membaca ceritanya, pemangkasan waktu kelompokmu itu justru mendatangkan hikmah, barangkali justru lebih leluasa menyampaikan ide dan pikiran di milis terkait...
Wassalamu 'alaykum wr wb
By
Anonymous, at 9:17 PM
Post a Comment
<< Home