Mengejar Impian

Monday, July 04, 2005

28S

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (64At-Taghabun:16)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajiakn yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. (Al-Baqarah:286)

Kenapa,sih, aku harus selalu berlaku manis? Kadang-kadang, mau juga kan aku tertawa terbahak-bahak mendengar gurauan temanku yang lucu. Atau melepas kerinduanku pada kawanku dengan membahas berita menarik sepanjang perjalanan kami di kereta, heboh sana sini. Kadang aku pun ingin nakal parkir sepeda di tempat parkir pengunjung swalayan, atau parkiran gereja yang nganggur di hari biasa, bukan di tempat parkir sesungguhnya yang harus nanjak dan ngeluarin duit cepek. Aku juga kadang tak bisa menghindar telat datang ke kelas, mungkin itu karena aku salah memperkirakan waktu, atau di lain saat aku tak ingin menunggu sensei di kelas. Suasana kelas yang ramai kadang menyebalkan. Kadang aku tak ingin menyapa seorang temanpun. Kuberpikir bahwa datang ke kelas terlambat tak selamanya buruk. Asal tak mengganggu orang lain. Masuk kelas dengan diam-diam. Kehidupan di dunia kampus bebas, bung! Tanggung jawab sendiri. Well, mungkin kau juga bilang, tanggung jawab sendiri kalau aku kemudian tak dapat hand-out, atau satu lagi anak dalam kelas itu melihatku dan mengklasifikasikanku pada golongan kiri baginya. Tapi, banyak anak seperti itu. Dan, aku sering selamat walau datang terlambat.
Kadang aku ingin datang ke kelas, dan pembicaraan basa-basi sensei sudah selesai. Kadang aku ingin mencomot permen atau meneguk minum dalam ruangan perpustakaan yang seharusnya tidak boleh makan minum.
Sering aku ingin bersikap tak peduli pada ruang kelas yang kotor dengan leaflet-leaflet promosi kegiatan kampus ini itu, atau bungkus bekal makan siang anak-anak. Dan kadang aku bahkan menyelipkan sedikit komentar, `Loh? Sama saja, ternyata anak universitas terkenal, bergengsi seperti ini kotor juga,toh!!`
Aku kadang tak ingin terus dalam sikap tersenyum berjalan di sepanjang lorong atau trotoar, aku ingin sibuk dalam pikiranku sendiri.
Aku tak peduli apa mereka tertarik dengan pembicaraanku, dengan gayaku, atau penampilanku yang kadang-kadang lusuh dan serampangan. Ehm...bagi mereka mungkin lusuh, tapi bagiku tidak. Tas punggung, basah terkena cipratan hujan, bagian bawahnya cukup berdebu, tanda ia sering mampir di bawah, tapi lap jarang menghampirinya. Payung edisi angkatan, bisa memayungi 3 orang sekaligus. Jilbab juga, kadang-kadang mencong... Tapi aku tidak bau. Aku selalu pakai pewangi. Aku juga tidak kotor. Kalau orang yang terkena penyakit hiper higienis dinilai 110, dan orang yang amat sangat kotor 05, aku masih 80,lah.
AKu ingin, cukup semua itu dilekatkan kepadaku. Kepadaku saja. Bukan kepada atribut diriku inni,lho!

Ya sudah, jangan dipakai kalau begitu!

Eh, enak saja, aku ini anak muslimah. WAJIB,tauk! Dulu makainya saja susah. Mana bisa saya lepas.

Memangnya, berlaku baik sebagai muslimah tidak WAJIB?

Tapi, orang itu kan tak selalu dalam keadaan ideal? My pace. Kamu sering dengar kata itu bukan.

Ya, ALlah tak akan menempatkan orang pada tempat yang bukan `pace`nya. Dan Allah telah mentakdirkanmu untuk datang ke tempat di mana semua paparazi bisa memotret tingkah lakumu sebagai seorang muslimah. KAU=MUSLIMAH!

Allah tak akan membebani seorang hamba dengan beban yang melebihi kemampuannya bukan??

Pintar,kamu. Karna itu, beban yang ada di depan matamu sudah dijamin oleh Allah, bahwa ia akan sanggup kau angkat.

Maksudmu?

Ya, Allah menjaminmu, bahwa kau akan sanggup menjadi anak yang manis, sanggup menjadi dirimu, sekaligus menjadi seorang muslimah ideal, yang ada dalam BAYANGANMU SENDIRI.
Protes yang kau katakan tadi itukan, protes pada dirimu sendiri. Hey, kau sudah melihat beban itu. Dan ALlah tak akan menampakkan beban itu di matamu kalau Allah tahu kau tak akan sanggup memikulnya.

Benarkah?

YuP!

Tapi, ... begitu ada banyak jalan menempuh hidup. Dan, yang benar itu kan tidak cuma satu. Begitu banyak jenis manusia, sedang Islam itu rahmat untuk semesta. Bagaimana Islam memberi ruang yang luas bagi setiap pribadi untuk tetap hidup sesuai kepribadiannya, tapi juga sesuai dengan Islamnya?

Ehm... tak kah kau rasakan? Bahwa Allah mendidik satu persatu dirimu? Dan hidayahNya datang, dengan menanamkan banyak kecenderungan baik pada dirimu. Ehm... pada setiap-tiap orang tepatnya.
Ya, apalagi... kau tak boleh menggerutui tingkah laku dirimu sendiri bukan? Selalu tidurlah kamu, selalu jemputlah harimu, dan jalanilah harimu, dengan kau bahagia terhadap dirimu.
Oke?

HEY??!!

1 Comments:

  • begitulah kita, kau dan aku sama. karena urutannya semestinya begini : ilmu --> iman --> amal

    gampangnya begini, fokus ke jilbab. dalam urut-urutan di atas, jilbab adalah amal. dalam bentuk pohon, ia adalah buah, di mana akar adalah ilmu, batangnya adalah iman. nah, cacat-cacat yang menimpa sang buah adalah berasal dari : akar yang tak menancam dalam ke tanah, atau penyakit yang menggerogoti batangnya. buahnya sendiri hanya korban...

    By Anonymous Anonymous, at 3:01 PM  

Post a Comment

<< Home